BIPA

MENJALIN KEAKRABAN DALAM PERMAINAN TRADISIONAL BERSAMA SISWA BIPA

Pada pagi yang cerah, Rabu (18/3) keadaan di halaman belakang Gedung Gymnasium tidak seperti biasanya. Pada pukul 9 pagi, di tempat itu terlihat siswa-siswa BIPA Balai Bahasa UPI sedang asyik mengikuti lomba permainan tradisional bersama dengan guru, mitra bahasa, dan mahasiswa Jurusan PGSD UPI Kelas C. Tidak ketinggalan juga beberapa staf dari Office of International Education and Relations (OIER) UPI turut hadir dalam acara tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan setelah siswa BIPA menyelesaikan Ujian Tengah Program (UTP) ini diikuti oleh 20 siswa BIPA UPI yang berasal dari berbagai negara, yaitu Tiongkok, Jepang, Koera Selatan, Laos, Vietnam, Belanda, Polandia, dan Malaysia, 36 mahasiswa Jurusan PGSD kelas C, dan 15 orang perwakilan dari guru, mitra bahasa, dan staf Balai Bahasa UPI. Semuanya larut dalam kemeriahan.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta dibagi menjadi empat BIPAkelompok. Setiap kelompok mengikuti setiap permainan dengan penuh antusias supaya bisa mendapatkan skor yang sebesar-besarnya. Setidaknya ada 13 pos permainan yang  harus dilalui oleh peserta. Permainan-permainan tersebut adalah perepet jengkol, babandringan, tatarucingan (tebak-tebakan), ngadu kaleci (bermain kelereng), gatrik, balap bakiak, balap karung, berpose, bekel, galah asin, sapintrong, dan balon hihid. Persaingannya cukup ketat karena hanya satu kelompok yang dinobatkan sebagai juara.

Menurut pengakuan peserta, beberapa permainan dapat dikategorikan cukup menantang, mengingat banyak di antara mereka belum pernah mencoba permainan ini sebelumnya. Sebut saja Thippohongphat Manivong, siswa dari Laos. Dia bersusah payah untuk melempar bekel (bola karet), mengambil kerang (kewuk), lalu menangkap kembali bekelnya secara bersamaan. Berbeda dengan Panusak Meekaeo. Pemuda asal Negeri Gajah ini meminta penjaga galah asin untuk bertukar posisi. Panitia diminta menjadi pemain, sedangkan dia dan teman-temannya menjadi penjaga gawang.BIPADia melakukan ini karena penasaran tentang kemungkinan orang Indonesia dapat melewati penjaga galah asin.  Adapun permainan yang sangat baru bagi semua siswa BIPA adalah perepet jengkol. Perlu kekuatan kaki dan kerja sama tim yang bagus untuk dapat bertahan, melompat ke samping, dan tepuk tangan sambil bernyanyi. Hanya satu kelompok yang beranggotakan Seo Jongwoo (Korea Selatan), Shin Daeeun (Korea Selatan), Jeffrey alexius Brandes (Belanda), dan Thippohongphat Manivong (Laos) yang dapat bertahan selama 58 detik.

Menurut Koordinator BIPA Balai Bahasa UPI, Sri Nurasiawati, kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari program BIPA Balai Bahasa UPI untuk mengajarkan bahasa Indonesia dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada siswa BIPA. “Melalui kegiatan ini, saya berharap, siswa tidak hanya mengenal permainan tradisional dari buku atau dari cerita, tetapi juga dapat mengalami secara langsung.” Dia juga menambahkan bahwa nilai-nilai luhur budaya Indonesia untuk bekerja sama, saling percaya, menghargai persaingan, dan menghormati keputusan  tanpa mengesampingkan keakraban dan kesenangan dapat ditunjukkan melalui permainan ini.

Foto-foto lainnya