Problematik Kelas Daring BIPA

         Istilah pembelajaran daring dan luring muncul sebagai salah satu bentuk pola pembelajaran di era teknologi informasi seperti sekarang ini. Daring merupakan singkatan dari “dalam jaringan” sebagai pengganti kata online yang digunakan dalam kaitannya dengan teknologi internet. Daring adalah terjemahan dari istilah online yang bermakna tersambung ke dalam jaringan internet. Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan secara online, menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial. Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi melalui media sosial yang telah tersedia. Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online. Sistem pembelajaran melalui daring ini dibantu dengan beberapa aplikasi, seperti Google Classroom, Google Meet, Edmudo, Zoom, dan lain sebagainya.

            Pembelajaran daring pun berimbas pada pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Seperti halnya pembelajaran bahasa kedua, seperti bahasa Inggris untuk orang Indonesia, pembeajaran BIPA mempunyai kesulitan yang serupa, yaitu sulitnya menjelaskan sebuah kata dan penggunaannya di dalam kalimat. Lain halnya dengan pembelajaran tatap muka, sebuah kata bisa dijelaskan dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah, tapi tidak demikian dengan pembelajaran daring. Tentunya, satu-satunya cara adalah dengan tata kalimat yang benar-benar bisa dipahami. Apalagi jika pembelajar BIPA tersebut punya keterbatasan dalam komunikasi dalam bahasa Inggris, hal ini membuat pengajar BIPA pusing tujuh keliling. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa tidak semua kata bisa diterjemahkan dalam bahasa asing lainnya, termasuk penggunaannya dalam kalimat.

            Pemaknaan gramatikal adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam pembelajaran daring, apalagi jika kata tersebut masuk dalam kategori majas, idiom, maka sempurnalah kesulitan yang dialami siswa dan guru dalam berkomunikasi. Bahkan dalam satu momen, penjelasan satu kata bisa menghabiskan waktu satu jam pelajaran ditambah siswanya yang rajin bertanya. Hal itu membuat guru sedikit kewalahan dalam menjelaskan, khususnya berkaitan dengan tata bahasanya.

            Tata bahasa Indonesia adalah tata bahasa yang kurang ajeg, baik dalam struktur kalimat, maupun dalam pola pembentukan kata dan pemaknaannya. Barangkali, orang Indonesia yang belajar bahasa Indonesia  tidak akan bertanya, apa perbedaan “kehutanan” dan “perhutanan”, mengapa ada “berdiri” tapi tidak ada “berduduk”. Orang Indonesia yang belajar bahasa Indonesia dapat menerima hal tersebut dengan intuisinya. Penggunaan kata “berduduk” itu tidak biasa digunakan. Logika kita akan menerima hal tersebut meskipun tidak dapat dijelaskan secara logis karena begitulah bahasa yang bersifat arbiter.

            Lain halnya dengan pemelajar asing, khususnya pemelajar asing yang mempunyai sikap kritis. Mereka cenderung ingin lebih tahu, mengapa bisa begitu, mengapa bisa begini. Di sinilah tantangan sebagai guru BIPA yang harus mampu menjelaskan secara logis tentang ketidakajegan tata bahasa bahasa Indonesia yang memang arbitrer. Apalagi dengan pembelajaran daring ini kadang membuat pembelajaran monoton dan membosankan. Oleh karena itu, penjelasan sebuah kata harus dijelaskan dengan baik dan benar, juga dengan menarik dan membahagiakan.

            Problematika pembelaran daring, tidak hanya sebatas penjelasan materi yang tidak efektif, tetapi terkendala jaringan yang kurang stabil. Berbagai kendala membuat suara guru, pengucapan kata, menjadi kurang jelas untuk disimak. Tentulah, ini membuat siswa menjadi lebih kesulitan dalam menerima materi ajar. Dengan jaringan yang baik pun kadang siswa asing tidak bisa menangkap dengan baik apa yang guru katakan, apalagi ditambah dengan jaringan yang tidak stabil, maka lengkaplah penderitaan guru dan siswa. Guru harus mengulang beberapa kali setiap kata yang diucapkan namun siswa tetap tidak bisa mendengar dengan baik apa yang guru katakan. Jadi, masalah-masalah pembelajaran daring tidak hanya mencakup materi ajar dan metode pembelajaran, tetapi juga jaringan internet yang harus stabil.

            Salah satu bentuk metode pembelajaran daring untuk BIPA adalah metode diskusi dan narasi, biarkan siswa yang bercerita. Hal ini akan membuat pemelajar asing cepat lancar dalam berbicara. Ajaklah mereka untuk berbicara bahasa Indonesia, menceritakan gagasan-gagasan, dan mencoba berpikir dalam bahasa Indonesia. Hal ini sangat membantu mereka dalam menemukan kata baru dan penggunaannya dalam kalimat.

          Tentunya materi dalam buku harus dapat disampaikan dengan baik, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Namun, kadang beberapa materi di buku, kurang menarik minat siswa, khususnya bagi siswa kelas privat. Mereka akan belajar sesuai dengan kebutuhannya. Kadang beberapa siswa privat sudah membawa masalah/materi sendiri yang mereka dapat saat berkomunikasi dengan masyarakat. Tugas guru BIPA adalah harus bisa menjelaskan setiap fenomena yang dialami oleh siswa asing ketika belajar bahasa Indonesia.

Salam dan sukses selalu. [Burhan Sidik]

Share this:
X