Tulisan ini adalah kelanjutan dari Bagian 1 terkait masalah kebahasaan yang tergolong fundamental dalam sebuah manuskrip jurnal, sebagai ringkasan materi berjudul “Overview of Common Irregularities in Conaplin 14 Manuscripts” yang disampaikan anggota Dewan Editor IJAL, Mahardhika Zifana, dalam acara Workshop Publikasi CONAPLIN 14 (the Fourteenth Conference of Applied Linguistics).

  1. Bahasa Inggris Nonakademik (Non-Academic English)

Seyogyanya, seorang penulis manuskrip jurnal, apalagi manuskrip bertema linguistik, telah memahami bahwa suatu bahasa memiliki banyak ragam. Berbagai ragam bahasa yang dimaksud tentunya memiliki ruang dan konteksnya masing-masing. Dalam ruang dan konteks jurnal ilmiah akademik, tentunya ragam yang harus digunakan adalah bahasa Inggris ragam akademik, bukan ragam yang lain. Akan tetapi, pada manuskrip Conaplin 14, Tim Publikasi Ilmiah menemukan banyak sekali manuskrip yang tampaknya menabrak konvensi ini.

Bahasa Inggris ragam akademik adalah gaya penulisan formal dan impersonal yang ditujukan kepada para pembaca ilmiah atau akademik. Di sisi lain, penulisan non akademik adalah gaya penulisan informal dan biasanya subjektif yang bertujuan masyarakat umum. Perbedaan antara penulisan akademik dan penulisan nonakademik berasal dari berbagai faktor seperti pembaca, tujuan, bahasa, dan format. Tentu sudah tidak perlu dijelaskan lagi siapa dan bagaimana ragam pembaca sebuah jurnal ilmiah. Penulisan akademik akan menyasar masyarakat ilmiah-akademik sementara penulisan nonakademik akan ditujukan kepada masyarakat umum. Selain itu, tujuan utama penulisan akademik adalah untuk memberi tahu para pembaca, dengan fakta-fakta yang tidak bias dan bukti padat. Ini adalah perbedaan utama antara penulisan akademik dan penulisan non akademik.

Berikut adalah contoh penggunaan ragam nonakademik pada manuskrip Conaplin 14.

Balai Bahasa UPI

Peraga 1. Contoh penggunaan ragam nonakademik pada manuskrip jurnal

Pada Peraga 1, bagian yang diberi kotak merah, penulis membubuhkan bentuk kontraksi (contraction) doesn’t. Bentuk tersebut memang benar merupakan bagian dari bahasa Inggris populer, tapi BUKAN RAGAM AKADEMIK. Dalam ragam akademik, tulisan tidak boleh dibentuk secara ambigu dan memberikan kesan tidak jelas. Bentuk kontraksi tidak dikenal dalam bahasa Inggris Akademik. Tentu saja, alih-alih menulis doesn’t, penulis seharusnya menulis does not.

  1. Ketidakakuratan bentuk Bahasa Inggris Tulisan (Inaccurate forms of Written English)

Selanjutnya, tim publikasi ilmiah juga menemukan problematik ketidakakuratan bentuk bahasa Inggris tulisan. Dalam hal ini, ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama, penulis mungkin salah ketik sehingga menuliskan bentuk penulisan yang salah. Akan tetapi, Tim Publikasi menemukan ketidakakuratan yang terus diulang-ulang, ini merupakan indikasi bahwa penulis manuskrip memiliki kapasitas literasi yang rendah, sehingga mengira bentuk yang digunakannya adalah bentuk yang akurat. Contohnya adalah sebagai berikut.

Balai Bahasa UPI

Peraga 2. Ketidakakuratan bentuk Bahasa Inggris Tulisan

Pada Peraga 2 di atas, penulis manuskrip secara konsisten menuliskan at al  yang diikuti koma sebagai padanan untuk konsep dkk. (dan kawan-kawan) dalam bahasa Indonesia. Pada kenyataannya,  bentuk yang benar adalah et al. (diikuti titik) –yang merupakan singkatan dari et alia.

Seyogyanya, seorang penulis jurnal dapat memperdalam pengetahuan mendasar semacam ini, apalagi jika mempertimbangkan bahwa tulisannya akan dibaca oleh audiens internasional.

  1. Ketidakkonsistenan Dialek yang Digunakan (Inconsistencies of Dialect)

Problematik terakhir adalah ketidakkonsistenan dialek bahasa Inggris yang digunakan. Sebagaimana diketahui, suatu bahasa tentu memiliki beberapa dialek yang berbeda. Ini tidak terkecuali untuk bahasa Inggris. Bahasa Inggris memiliki beberapa dialek yang digunakan secara luas di dunia, antara lain dialek British, American, Australian, South African, dan Indian. Dalam hal ini, penulis manuskrip dituntut untuk menulis dalam dialek yang konsisten. Sayangnya, banyak sekali penulis yang tidak peka akan hal ini. Tim menemukan ada beberapa penulis yang menggunakan campuran dialek tanpa konsistensi. Ini tentunya menyulitkan pengolahan naskah. Jika penulis memilih untuk menggunakan dialek Amerika, maka seyogianya dialek Amerika digunakan secara konsisten pada seluruh manuskrip. Berikut ini adalah contoh penggunaan kata-kata dalam dialek Amerika (kiri) dan Britania/Australia (kanan) yang sering digunakan secara tidak konsisten oleh para penulis manuskrip.

analyze vs analyse
apologize vs apologise
program vs programme
behavior vs behaviour
humor vs humour
theater vs theatre
center vs centre

Demikianlah masalah kebahasaan yang tergolong fundamental dalam manuskrip jurnal. Semoga bermanfaat. [Mahardhika Zifana]

Share this:
X