Jalan Panjang IJAL Menuju Indeks Scopus Q2

Saat ini, mayoritas akademisi dunia mengenal Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) sebagai salah satu jurnal internasional dengan reputasi yang sangat baik. Hal tersebut dibuktikan oleh eksistensinya sebagai jurnal ilmiah terindeks Scopus pada level Q2, sebuah predikat yang tidak mungkin dipandang sebelah mata. Para linguis, peneliti bahasa, dan akademisi dari berbagai belahan dunia rela bahkan mengantre lama agar manuskripnya dapat dimuat di jurnal yang dikelola oleh Balai Bahasa UPI tersebut. Fenomena tersebut dapat dipahami mengingat artikel yang dimuat di IJAL akan memberikan reputasi dan gengsi tersendiri bagi penulisnya.

Terlepas dari reputasinya saat ini, tidak banyak orang yang mengetahui atau menyadari bahwa reputasi baik tersebut tidak dibangun dalam waktu satu malam. IJAL telah melalui jalan panjang dan penuh liku untuk berada pada posisinya saat ini. Perjalanan ini berawal dari inisiatif Kepala Balai Bahasa UPI tahun 2011, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. untuk mengadakan media yang dapat menampung hasil-hasil penelitian yang dipresentasikan dalam CONAPLIN (Conference of Applied Linguistics) yang telah rutin digelar oleh Balai Bahasa UPI sejak tahun 2007. Ketika itu, Prof. Didi melihat bahwa ada banyak artikel berkualitas yang sesungguhnya layak terbit dalam sebuah jurnal. Akhirnya, pada saat itu beliau dibantu oleh Lukman Hakim, M.Pd. dan dengan bimbingan Prof. Dr. Fuad Abdul Hamied, M.A. berinisiatif untuk mengumpulkan beberapa artikel dan memprosesnya hingga layak terbit dalam sebuah jurnal.

Pada akhir tahun 2011, untuk pertama kalinya, Balai Bahasa UPI menerbitkan sebuah jurnal bernama CONAPLIN JOURNAL: Indonesian Journal of Applied Linguistics. Jurnal Volume 1.1 yang baru terbit itu hanya berisi line-up sebanyak 10 manuskrip saja. Pada akhir tahun 2012, untuk volume 1.3, frasa CONAPLIN JOURNAL dihilangkan, menyisakan frasa Indonesian Journal of Applied Linguistics. Sejak itulah, jurnal tersebut lebih dikenal dengan akronim dari namanya, yakni IJAL. Di tahun berikutnya, 2013, IJAL mendapat cobaan besar saat gagal dalam proses akreditasi Jurnal Nasional di BAN PT. Walau demikian, para pengelola IJAL tidak patah semangat. Alih-alih, para pengelola IJAL mencoba membidik pencapaian yang lebih besar dengan mencoba membuat IJAL terindeks di Scopus.

Pada akhirnya, di tahun 2014, apa yang telah dicita-citakan oleh para pengelola IJAL pun berbuah manis. IJAL akhirnya terindeks Scopus. Ketika itu, masih belum banyak jurnal asal Indonesia, terutama dalam bidang humaniora, yang dapat terindeks Scopus. Pencapaian IJAL terus berlanjut hingga akhirnya IJAL berada di level Q2 sejak 2019 hingga saat ini. Apa yang telah dicapai oleh IJAL tentunya merupakan buah dari kesabaran dan kerja keras tanpa kenal lelah. Dukungan struktural terhadap IJAL pun tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata. Sistem pengelolaan IJAL tetap berjalan dengan baik walau Balai Bahasa UPI telah beberapa kali berganti pimpinan. Komitmen dan kesabaran yang menyertai kerja keras para pengelola, serta dukungan struktural Balai Bahasa UPI dan pimpinan universitas, merupakan faktor utama yang mendorong IJAL berada di tempatnya saat ini.

Saat ini, IJAL terbit tiga volume dalam satu tahun. Pada setiap volume, rata-rata terdapat 20-25 artikel yang ditulis oleh para akademisi dari berbagai belahan dunia. Keberadaan IJAL saat ini telah memberikan kontribusi nyata yang signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang linguistik terapan baik di level nasional dan tentunya level internasional. [Mahardhika Zifana]

Share this:
X